Thursday, August 20, 2015

The Case for Christmas

Harus beristirahat total selama beberapa waktu bisa jadi sebuah "mimpi buruk" untuk orang seperti saya. Tapi saya percaya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Mungkin Tuhan ingin mengajarkan saya untuk menikmati hidup dan menikmati hal-hal favorit saya yang jarang saya lakukan karena kesibukan.

Berteman dengan gadget milik suami, saya browse through beberapa judul e-book yang ada. Saya ingin membaca santai, dan saya mencari cover buku yang paling menarik. Mata dan hati saya tertambat pada buku karangan Lee Strobel: The Case for Christmas.

Menarik sekali membaca dan melihat Natal, salah satu momen Kristiani yang indah, dari kacamata yang berbeda. Strobel yang adalah seorang jurnalis, berusaha menyelidiki kebenaran tentang Natal: apakah benar hal-hal ini terjadi ataukah ini hanya sebuah fiksi yang mendasari liburan akhir tahun?

Saya bukan ingin memberikan resensi yang lengkap tentang isi buku dalam tulisan ini. Tapi saya tergelitik dengan pola pikir Strobel, dan juga beberapa nara sumber yang diwawancarainya. Mereka punya dasar yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan untuk hal-hal yang mereka percayai. Mereka tahu apa yang mereka percayai, dan mereka percaya apa yang mereka ketahui.

Bertentangan sekali dengan kebanyakan kegiatan mempersiapkan Natal di banyak tempat. Jangan salah paham, saya bukan menentang acara Natal yang wah dan meriah. Saya suka sekali merencanakan Natal, dan saya seringkali mendengarkan lagu Natal berbulan-bulan sebelum Natal tiba :)

Yang saya soroti, acap kali kita mempersiapkan Natal dengan begitu baik, tetapi kita melupakan hal yang terpenting dalam Natal. Perayaan Natal kita hanyalah sebatas meriah dan gereja penuh sesak, acara yang menghibur dan paduan suara yang merdu, sibuk dan serba ribet bahkan hingga tak sempat duduk sejenak untuk meresapi Natal itu sendiri. Dalam banyak acara Natal, yang menjadi subjek utama yang harus dipuaskan adalah manusia dan preferensi, performance dan applause, ego dan harga diri.

Kita memulai acara Natal dengan sebuah pesan pengharapan yang berasal dari sebuah kota kecil Betlehem, dan mengakhirinya dengan hati yang penuh kritik karena banyaknya hal yang tak sesuai dengan hati dan keinginan kita. Acara yang kurang menarik, konsumsi yang tidak cukup untuk semua yang hadir, tempat terlalu sesak, udara terlalu pengap, dan banyak hal kecil yang merusak Natal kita. Kita pulang melupakan yang utama dalam Natal. Ironis bukan?

Perjalanan Lee Strobel menemukan Natal, dan saya pikir inilah perjalanan yang sebenarnya Allah rancangkan untuk setiap kita, berawal dari seorang asing dengan rasa ingin tahu yang besar, menemukan dirinya di hadapan Sang Bayi Natal. Meminjam kesimpulan Strobel: "I haf come to the point where I was ready for the Christmas gift...: the Christ child, whose love and grace are offered freely to everyone who receives Him in repentance and faith. Even someone like me."

Sebuah perjalanan singkat yang sangat menggugah bersama Strobel. Sebuah peringatan yang tepat bagi setiap kita yang sudah mulai mempersiapkan Natal untuk akhir tahun nanti.

Saturday, June 20, 2015

Adakah Yesus di Wajahmu?

"Now that I've put you there on a hilltop, on a light stand - shine! Keep open house; be generous with your lives. By opening up to others, you'll prompt people to open up with God, this generous Father in heaven." (Matthew 5:16, MSG)


Kalau kita berani mengadakan survei tentang apa yang orang pikirkan tentang kehidupan kita, kira-kira apa yang akan mereka katakan? Memang kita hidup bukan dari opini atau pendapat orang tentang kita; bila kita hidup bergantung akan opini orang lain, kita akan berusaha keras menyenangkan orang lain dan pada akhirnya terpojok di ujung jurang kehilangan identitas diri. Tetapi, bila kita benar-benar menutup diri dari masukan orang lain, kita menjadi orang paling sombong yang kehilangan kesempatan untuk terus mengembangkan diri.
Terkadang, penilaian orang lain menjadi cermin yang efektif bagi kita untuk mengevaluasi diri; apakah kehidupan kita sudah pada rel yang Tuhan tetapkan atau kita sedang berjalan melawan kehendakNya bagi setiap kita?

Yesus mengatakan pada murid-muridNya, bahwa Tuhan menempatkan kita di mana pun kita berada, bahkan di tempat yang mudah terlihat banyak orang, untuk bersinar bagi Dia. Hidup kita seharusnya menjadi sebuah petunjuk arah bagi orang lain untuk berjumpa dengan Allah yang kita sembah. Ketika kita memasuki sebuah kelompok, apakah mereka melihat Yesus atau melihat ego diri kita sendiri? Ketika orang melihat diri kita, apakah mereka melihat kasih kita kepada Allah yang nampak melalui kasih kita kepada sesama, atau mereka melihat seseorang yang penuh benci dan amarah?

Apa yang orang lihat ketika mereka melihat wajah kita? Senyum bahagia yang temporer karena kesenangan dunia? Keangkuhan dan gengsi yang meninggikan diri dan merendahkan orang lain? Atau Yesus, yang telah menebus dan memiliki hidup kita, mengubah kita menjadi alat kasihNya?
Siapa yang orang lihat di wajah kita: manusia yang rapuh atau Yesus yang kekal?




Reuni

Reuni selalu menyenangkan bagi kebanyakan orang. Bertemu dengan seseorang dari masa lalu, berbagi cerita masa sekarang, dan bertukar impian masa depan.

Dua hari ini, saya bertemu dua dosen yang cukup berperan membentuk saya selama kuliah dan dampaknya masih saya rasakan hingga sekarang. Yang seorang adalah dosen pembimbing skripsi, rekan bermusik, dan kawan bercerita; seorang yang lain menjadi mentor saat saya menjadi asisten di kelas perkuliahan beliau dan memberi banyak teladan, inspirasi dari hidupnya.

Kak Pat, begitu panggilan saya padanya, masih tetap bermusik dan memimpin sebuah tim yang berkembang dalam bermusik. Saya berjumpa dengan beliau di sebuah konser. Dalam pembicaraan singkat kami sebelum konser dimulai, beliau mendorong saya untuk mengembangkan talenta dan mengejar impian bermusik. Bahkan beliau tidak segan menawarkan kemungkinan berkolaborasi dalam beberapa project di kemudian hari. Beliau menutup pembicaraan kami dengan sebuah kalimat pamungkas, "Kejarlah impianmu, kembangkan dirimu; sekalipun mahal harga yang harus dibayar, jangan berhenti!"

Malam tadi berjumpa dengan Bu Jenny. Ketika menjadi asisten baginya, dia mengajarkan banyak hal untuk terus mengevaluasi diri menjadi pribadi yang lebih matang. Hari ini berjumpa dalam satu panggung; beliau menjadi pembicara dalam sebuah talk show tentang relasi dan pernikahan, sedangkan kami diminta menjadi nara sumber untuk memberi warna realistis kepada para pendengar. Dalam percakapan pribadi dengan beliau dan juga mendengarkan materi yang beliau sampaikan seakan membawa saya kembali ke sepuluh tahun lalu ketika duduk di kelas beliau senagai mahasiswa. Saat itu saya sedang belajar menjadi asertif. Sekarang pun masih berjuang untuk menjadi asertif tanpa menjadi agresif.

Reuni dengan dua dosen yang inspiratif seakan mengingatkan saya akan tantangan kehidupan yang akan selalu ada. Tantangan bukan berarti hidup menjadi menakutkan dan membuat kita terpuruk dalam kesedihan, tetapi tantangan menjadi sebuah kesempatan untuk mengembangkan diri dan memenangkan pertandingan dalam fase kehidupan. Terkadang memang air mata harus tertumpah saat berjuang, terluka dalam proses, bahkan ada saat dimana kita ingin sekali berhenti dan menyerah. Tapi jika kita tidak mencoba berjalan menembus kabut tebal itu, kita tidak pernah tahu apa yang ada di seberang sana.

Yaa...saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan yang terkadang kita tidak tahu. Reuni dua hari ini menjadi sebuah oase bagi jiwa yang mulai penat. Terima kasih, Kak Pat, Bu Jenny....telah berbagi hidup dan nasihat, telah menjadi bahan bakar untuk pembelajar amatir ini.

Friday, June 19, 2015

Kamis Manis

Sebuah croissant di pagi hari,
dan donat gula di sore tadi,
sebuah pertanda yang manis
di tengah sibuknya Kamis.

Inilah awal bulan puasa,
menahan lapar dan dahaga;
sebuah perjuangan raga,
demi memurnikan jiwa.

Dengan syukur awali hari,
penuh berkah mengakhiri;
naikkan doa dari hati,
beribadah dan serahkan diri.

Sesungguhnya hidup penuh makna,
bila kau cari Sang Pencipta;
rela berbagi dengan sesama,
tanpa harus membeda-bedakan.

Di bulan penuh berkah Ilahi,
mari terus mantapkan hati,
berbagi arti dan mengasihi,
maka niscaya sorga kau temui.

Wednesday, June 17, 2015

Nasi Suramadu

Jangan keraskan hatimu!
Kalau sudah mencium aroma masakan di depot kecil ini, apalagi kalau sudah melihat makanan yang disajikan, indera pengecap pasti ingin segera bekerja (keras).

Menu pamungkasnya sederhana: nasi campur Madura! Nasi putih hangat, empal daging yang empuk, beberapa potong paru dan babat, dan udang goreng renyah... tak lupa serundeng, sedikit mie, dan yang tak boleh dilewatkan: sambal mangga!
Bisa juga request tambahan cumi masak hitam yang menambah kekayaan rasa.

Seporsi nasi Madura di Warung Suramadu ini tak menghabiskan lebih dari dua puluh ribu rupiah! Lokasinya mudah dicari, di Jalan Demak, tak jauh dari pusat belanja grosir di Jalan Pasar Turi.
Perlu dan wajib dicoba! :)